KONSERHARIINI.COM – Idgitaf Berusaha di Bawah Hujan akhirnya resmi mendarat di telinga pendengar.
Setelah nge-drop tiga single sejak Oktober 2025, Idgitaf membuka babak baru lewat album penuh keduanya yang rilis pada 15 Mei 2026.
Kali ini, Gita datang bukan cuma bawa lagu-lagu manis, tapi juga cerita cinta yang lebih dewasa, hangat, dan kadang bikin kepala diem dulu sebentar.
Album ini berisi 12 lagu yang dikemas seperti cerita bersambung. Vibenya tetap pop khas Idgitaf yang penuh rasa, tapi ada sentuhan country yang bikin albumnya terasa lebih segar.
Lagu seperti “Sedia Aku Sebelum Hujan” dan “Mungkin di Depan Buram” jadi contoh bagaimana Gita mencoba warna baru tanpa kehilangan identitasnya sebagai penulis lagu yang jago bikin perasaan sederhana terasa dalam.
Album Kedua Idgitaf Ini Bukan Sekadar Lagu Cinta
Kalau biasanya lagu cinta cuma berhenti di fase senang-senangnya saja, Berusaha di Bawah Hujan justru masuk lebih jauh.
Album ini membahas cinta sebagai proses: ada fase ketemu rasa yang menyembuhkan, menikmati bahagia, menghadapi ragu, lalu belajar bertahan saat keadaan tidak selalu cerah.Gita menyebut album ini lahir dari pengalaman jatuh cinta yang terasa baru baginya.
Namun, yang menarik, ia tidak membungkus cinta sebagai sesuatu yang selalu estetik dan mulus.
Ada tantangan, perbedaan, serta proses memahami satu sama lain yang membuat album ini terasa lebih manusiawi.
Buat anak skena yang suka lagu-lagu dengan lirik kontemplatif, album ini bisa dibilang masuk ke wilayah “dengerin sambil jalan malam, terus pura-pura kuat.”
Bukan sedih yang lebay, tapi sedih yang rapi, hangat, dan tetap punya cahaya di ujungnya.
Hindia dan Dere Ikut Masuk ke Semesta Hujan Idgitaf
Idgitaf juga menggandeng dua nama besar dalam album ini: Hindia dan Dere. Hindia hadir lewat lagu “Masih Ada Cahaya”, sementara Dere ikut masuk dalam “Setengah Langit”.
“Masih Ada Cahaya” membawa tema tentang usaha memahami masa lalu pasangan. Lagu ini memberi ruang untuk melihat seseorang secara lebih utuh, termasuk luka dan cerita lama yang membentuk dirinya hari ini. Nuansanya hangat, tapi tetap punya sisi getir yang bikin pendengar mikir.
Sementara itu, “Setengah Langit” bersama Dere menyentuh isu yang dekat dengan banyak perempuan: cara orang sering mengukur kebahagiaan dari standar luar. Lagu ini terasa relevan, terutama pada era media sosial yang sering bikin orang membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain.
Kolaborasi ini tidak terasa seperti gimmick. Hindia dan Dere masuk ke album dengan warna yang pas. Mereka membantu memperluas emosi album tanpa mengambil alih pusat cerita Idgitaf.
Dari Listening Session sampai Sound Bath, Idgitaf Bikin Pengalaman Imersif
Tidak berhenti di rilisan digital, Idgitaf juga menyiapkan Berusaha di Bawah Hujan (Immersive Album Experience) di Teater Salihara, Jakarta Selatan.
Rangkaiannya juga cukup niat: ada listening session, acoustic performance, sound bath, sampai CD signing session.
Jadi, bukan sekadar datang, duduk, lalu pulang. Audiens diajak masuk ke dalam narasi album, merasakan lapisan emosinya, dan lebih dekat dengan perjalanan artistik Gita.
Setelah album Mengudara pada 2023, Berusaha di Bawah Hujan terdengar seperti kelanjutan yang lebih matang: masih lembut, tapi lebih berani membuka ruang konflik.
Rekomendasi artikel: The Marsoedi Bikin Galau Naik Level Lewat Lagu Baru “Bahagiamu Bahagiaku”
Dengan 15,2 juta pendengar bulanan di Spotify per 13 April 2026, Idgitaf jelas bukan nama yang sekadar lewat di playlist.
Lewat album ini, ia memperlihatkan bahwa musik pop Indonesia masih punya banyak ruang untuk tumbuh: tidak harus selalu mengejar hook viral, tapi bisa tetap relevan lewat cerita yang jujur.
Pada akhirnya, Berusaha di Bawah Hujan adalah album tentang perjalanan yang belum selesai. Bukan album yang sok memberi jawaban, melainkan teman jalan ketika hidup sedang gerimis, deras, atau cuma mendung tipis-tipis.
Dan ya, kadang yang kita butuhkan memang bukan solusi instan, tapi lagu yang cukup paham rasanya bertahan.












