KONSERHARIINI.COM – Dee Lestari resmi membuka babak baru lewat album “(Jangan) Jatuh Cinta”. Album ini hadir sebagai karya penuh ketiganya setelah lebih dulu memperkenalkan tiga single, yaitu “(Jangan) Jatuh Cinta”, “Perahu Kertas”, dan “Kabarku”.
Album ini membawa delapan lagu dengan warna yang cukup lebar. Namun, benang merahnya tetap jelas: perjalanan hati yang jatuh, patah, pulih, lalu belajar melepas.
Secara rasa, album ini bukan sekadar kumpulan lagu cinta. Dee merangkainya seperti cerita panjang tentang fase emosional manusia, dari peringatan awal sampai penerimaan yang paling tenang.
Perjalanan menuju album ini terasa cukup panjang. Dalam siaran persnya, Dee Lestari disebut kembali melangkah solid ke dunia musik setelah 18 tahun sejak album “Rectoverso”.
Posisinya juga tetap unik. Ia bukan hanya penyanyi, tetapi juga penulis dan pencipta lagu yang kuat dalam urusan narasi.
Karena itu, “(Jangan) Jatuh Cinta” terasa punya identitas yang khas. Setiap lagu tidak berdiri sendiri, melainkan bergerak seperti bab dalam satu buku harian musikal.
Afgan Muncul di Lagu “Cuma Satu Nama”
Salah satu momen paling menarik di album ini hadir lewat lagu “Cuma Satu Nama”. Dee membawakannya bersama Afgansyah Reza, atau Afgan.
Lagu ini ditulis oleh Dee Lestari bersama mendiang suaminya, Reza Gunawan. Petra Sihombing kemudian memproduseri lagu tersebut dengan aransemen yang digambarkan segar, elegan, dan timeless.
Kolaborasi ini menjadi titik puncak dalam alur album. Setelah hati melewati patah dan ragu, lagu ini hadir sebagai perayaan dua hati yang berani melangkah.
“Hujan Bulan Juni” Akhirnya Masuk Rekaman
Album ini juga menyimpan kejutan lain lewat “Hujan Bulan Juni”. Lagu tersebut berbasis puisi legendaris karya Sapardi Djoko Damono.
Menariknya, karya ini sebenarnya dibuat untuk film adaptasi novel “Hujan Bulan Juni” pada 2017. Namun, lagu itu baru sekarang hadir sebagai rekaman resmi dalam album Dee.
Gardika Gigih memproduseri lagu ini dengan nuansa live session. Sentuhan choir Barsena Bestandhi menambah kesan megah tanpa membuat lagunya kehilangan sisi intim.

Album dibuka dengan “(Jangan) Jatuh Cinta” yang diproduseri Rendy Pandugo. Lagu ini terasa seperti alarm manis sebelum pendengar masuk ke lorong cinta yang lebih rumit.
Setelah itu, “Patah Hati” muncul dengan sound modern garapan Gala Yudhatama dan Pandji Akbari. Lagu ini membawa energi dinamis untuk menggambarkan fase ketika cinta mulai melukai.
Pada “Kabarku”, Dee menempatkan hati di titik paling rendah. Fellow Amateurs, yang berisi Mikha Angelo, Yosua Gian, Geddi Jaddi Membummi, dan Nathania S. Alexandra, memberi sentuhan soulful yang membuat liriknya terasa dekat.
Perjalanan lalu bergerak ke “Jadi Udara” yang lebih cerah dan upbeat. Dimas Wibisana memproduseri lagu ini, sementara Arina Ephipania dari Mocca ikut mengisi backing vocal.
Album kemudian mengalir ke “Perahu Kertas”, lagu lama Dee yang lahir ulang lewat produksi Petra Sihombing. Di ujung perjalanan, “Bintang Utara” menutup album dengan cerita tentang relasi orang tua dan anak.
Tracklist Album “(Jangan) Jatuh Cinta”
Album ini memuat delapan lagu:
- “(Jangan) Jatuh Cinta”
- “Patah Hati”
- “Kabarku”
- “Hujan Bulan Juni”
- “Jadi Udara”
- “Perahu Kertas”
- “Cuma Satu Nama”
- “Bintang Utara”
Rekomendasi artikel: Mario G Klau Rilis “Tarik Ulur”, Lagu Pop Emosional tentang Hubungan Tanpa Kepastian
Dee Lestari Merawat Cinta dengan Cara yang Lebih Dewasa
“(Jangan) Jatuh Cinta” memperlihatkan Dee Lestari dalam bentuk yang matang. Ia tidak mengejar lagu cinta yang sekadar enak didengar, tetapi membangun ruang cerita yang bisa ditempati banyak orang.
Album ini juga menunjukkan bahwa musik pop Indonesia masih punya tempat untuk lirik yang rapi, aransemen berkelas, dan storytelling yang tidak buru-buru. Dengan delapan lagu ini, Dee seperti mengajak pendengar duduk sebentar, lalu melihat lagi cara mereka memahami cinta.
Pada akhirnya, “(Jangan) Jatuh Cinta” bukan hanya album tentang jatuh cinta. Ini album tentang keberanian untuk merasa, kehilangan, menemukan, dan melepas dengan kepala yang lebih jernih.












