Unit alternative rock/power pop asal Malang, Peni, resmi merilis album penuh bertajuk “30”. Album ini memuat sepuluh lagu dan hadir melalui label Haum Entertainment.
Lewat album 30, Peni merangkum perjalanan emosional yang mereka alami dalam setahun terakhir.
Mereka membawa cerita tentang cinta, kemarahan, kesepian, kehilangan, tekanan hidup, hingga refleksi menjelang usia 30.
Band ini beranggotakan Ken Baruna pada gitar dan vokal, Gilang Domisilafa pada gitar, Ardian Bagus “Susu” pada bass, serta Aldian Ibanez “Dibot” pada drum.
Album “30” Terasa seperti Catatan Pribadi yang Jujur
Peni tidak mencoba membuat album yang terdengar megah atau penuh slogan motivasi. Mereka justru memilih jalur yang lebih jujur, personal, dan apa adanya.
Ken Baruna menyebut “30” sebagai rangkuman pengalaman personal menjelang usia 30. Ia melihat album ini seperti buku harian yang menyimpan kemarahan, kesedihan, kesepian, dan banyak perasaan lain yang sulit ia jelaskan secara langsung.

Beberapa lagu dalam album ini memperlihatkan sisi tersebut dengan jelas. “30” dan “Tentang Kepergian” terasa sangat dekat dengan pengalaman Ken.
Dua lagu itu membahas rasa takut saat seseorang ingin menyampaikan perasaan, lalu menemukan lagu sebagai ruang yang lebih nyaman untuk bercerita.
Dari “Allegori” sampai “Tentang Kepergian”
Peni membuka album ini dengan “Allegori”, lagu yang berangkat dari puisi karya Randy Levin Virgiawan atau Kempel.
Nomor ini mengantar pendengar untuk mengenal sisi lirik Peni yang puitis, getir, tetapi tetap mudah terasa.
Setelah itu, Peni membawa pendengar ke berbagai ruang emosi. “Jakarta” dan “Sama” menangkap keresahan terhadap dinamika sosial yang terasa absurd.
Sementara itu, “Kota” menggambarkan patah hati akibat kompleksitas hidup urban.
Peni juga menyisipkan warna pop yang lebih ringan lewat “Gejolak Asmara Masa Muda” dan “Pesta”.
Dua lagu ini membahas relasi, kecanggungan pergaulan, dan ingatan tentang masa muda.
Album kemudian menutup perjalanan emosionalnya lewat “Tentang Kepergian”. Lagu ini membahas kehilangan, ingatan, dan usaha seseorang untuk merawat kehadiran orang yang sudah pergi.
Peni Gabungkan Power Pop, Alternative Rock, dan Sentuhan Pop Indonesia
Secara musikal, Peni banyak mengambil pengaruh dari power pop dan alternative rock Amerika Serikat era 90-an.
Namun, dalam proses pengerjaan album ini, mereka juga kembali menemukan kenyamanan pada warna pop Indonesia era 90-an hingga 2000-an.
Gilang mengungkapkan bahwa Peni awalnya sangat terpengaruh band power pop Amerika.
Namun, selama proses kreatif, mereka justru merasa dekat dengan gaya penulisan lagu dari nama-nama seperti Ariel “NOAH”, Eross Candra, dan Pongki Barata.
Hasilnya, album 30 terdengar akrab, tetapi tetap punya tekstur kasar dan emosional. Peni ingin terdengar sebagai band pop, meski musik mereka membawa raung fuzz dan nuansa yang sedikit kotor.
Rekomendasi artikel: The Jansen Bikin Kejutan, Rilis Lagu Cinta Pertama Bila Cinta Adalah Sebuah Propaganda
Ken Baruna memproduseri seluruh materi dalam album ini. Peni merekam album tersebut di Rama Studio. Sementara itu, Rama Satria M menangani proses mixing dan mastering.
Album yang Dekat untuk Mereka yang Sedang Merasa Sendirian
Peni tidak ingin menjual harapan secara berlebihan lewat album ini. Mereka justru melepas “30” untuk orang-orang yang pernah merasa lelah, bingung, kehilangan arah, atau sendirian.
Ken menyebut album ini sebagai catatan keresahan yang minim motivasi heroik. Namun, justru di situlah daya tariknya.
Album ini tidak berusaha memberi jawaban besar, tetapi hadir sebagai teman bagi pendengar yang sedang berada di fase rapuh.
Lewat “30”, Peni menegaskan posisi mereka sebagai salah satu unit muda dari Malang yang layak diperhatikan.
Mereka tidak hanya produktif, tetapi juga berani menaruh kejujuran personal dalam lirik dan musik yang tetap mudah masuk ke telinga.











