The Jansen kembali membuat pendengarnya penasaran. Setelah melewati berbagai fase musikal, band asal Bogor ini kini membuka babak baru lewat single terbaru berjudul “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)”.
Single ini rilis pada Rabu, 29 April 2026. Lagu tersebut menjadi pintu masuk menuju album keempat The Jansen, “Romantisasi Impulsif”, yang hadir di platform digital pada 22 Juli 2026.
Menariknya, lagu ini membawa kejutan besar bagi para pendengar. Untuk pertama kalinya, The Jansen secara sadar menulis dan merilis lagu cinta dalam diskografi mereka.
The Jansen Tampil Beda Lewat Lagu Cinta Pertama
Selama ini, The Jansen lekat dengan tema anak muda, sindiran sosial, kegelisahan eksistensial, dan romantisme yang sering terasa pahit.
Namun, lewat “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)”, mereka memilih jalur yang lebih terbuka dan personal.
Adji Pamungkas menyebut lagu ini sebagai pengalaman pertama The Jansen dalam membuat lagu cinta.
Meski begitu, mereka tidak ingin menghadirkan cinta dengan cara yang terlalu manis atau biasa saja.
The Jansen tetap membawa karakter khas mereka. Lagu ini terdengar gelap, ironis, tetapi juga jujur dan rapuh. Unsur “wo ai ni”, yang berarti “aku cinta padamu” dalam bahasa Mandarin, memberi sentuhan manis sekaligus unik.
Lewat lagu ini, The Jansen tidak hanya membahas dua orang yang sedang kasmaran.
Mereka juga menyoroti cara cinta bekerja di tengah tekanan hidup dan kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah.
Adji melihat banyak orang rela melakukan hal-hal yang tampak tidak masuk akal demi menjaga cinta, termasuk meminjam motor hanya untuk mengajak kekasihnya jalan-jalan.
Dari fenomena sederhana itu, The Jansen membangun cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mereka membuat cinta terdengar romantis, tetapi tetap penuh kontradiksi, usaha, dan kegilaan kecil yang manusiawi.
Video Lirik Usung Nuansa Film Hong Kong 90-an
Setelah merilis single, The Jansen juga menyiapkan video lirik untuk “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)”. Video lirik tersebut tayang pada Kamis, 30 April 2026, di kanal YouTube The Jansen.
Video ini membawa visual yang terinspirasi dari film Hong Kong era 90-an. Konsep tersebut membuat nuansa lagu terasa lebih sinematik dan berbeda dari rilisan mereka sebelumnya.
Rekomendasi artikel: Ruzan & Vita Siap Bikin Jakarta Bergoyang, Pesta Rock n Roll Jakarta Tour Digelar 3-7 Mei 2026
The Jansen juga menghadirkan lirik dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Pilihan ini memperkuat karakter lagu yang bermain dengan rasa cinta, ironi, dan simbol pop Asia.
Jadi Pembuka Album “Romantisasi Impulsif”
Single ini menjadi pembuka menuju album “Romantisasi Impulsif”. Album tersebut berisi 12 lagu dan menjadi penutup dari trilogi yang The Jansen bangun sejak “Banal Semakin Binal” pada 2022.

Trilogi itu kemudian berlanjut lewat “Durja Bersahaja” pada 2024. Kini, “Romantisasi Impulsif” akan melengkapi perjalanan tersebut dengan arah musikal yang kembali membuat penasaran.
Selain tersedia di platform digital, album ini juga akan hadir dalam format fisik. The Jansen menggandeng P-Vine Records dari Jepang untuk format CD dan vinyl. Sementara itu, Miles Records dari Malaysia akan merilis format kaset.
Lewat “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)”, The Jansen membuktikan bahwa mereka belum selesai bereksperimen.
Mereka bisa masuk ke wilayah lagu cinta tanpa kehilangan karakter yang tajam, gelap, dan sedikit nakal.
Lagu ini juga memberi sinyal bahwa “Romantisasi Impulsif” akan menjadi fase penting dalam perjalanan The Jansen.
Apakah album ini akan menjadi penutup yang manis atau justru awal dari kejutan baru, pendengar perlu menunggu jawabannya pada Juli 2026.











