Sezairi mengejutkan dunia musik dengan merilis album kelimanya, “The Art of Surrender,” pada 17 Oktober 2025. Album ini menyuguhkan lebih dari sekadar musik, tetapi juga menggambarkan perjalanan pribadi Sezairi yang mendalam. Dengan 12 lagu penuh makna, album ini menandai babak baru dalam karier Sezairi.
Rekomendasi artikel: Isyana Sarasvati Memulai Babak Ketiga “Cecilia” dengan Lagu “I’m On My Way”
Setelah meraih popularitas dan mencetak hit, Sezairi memilih untuk meninggalkan label besar dan kembali ke studio rumahnya di Singapura. Di sana, ia menulis, merekam, dan memproduksi albumnya sendiri. “The Art of Surrender” mencerminkan kebebasan Sezairi setelah meninggalkan label besar. Ia tampil tanpa topeng dan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
“Album ini aku beri nama The Art of Surrender karena aku harus ‘menyerah’ pada kenyataan, bukan pada yang aku inginkan,” kata Sezairi.
Dramaturgi Cinta dan Perenungan
Album ini membawa pendengar melalui perjalanan emosional Sezairi. Dari pencarian cinta di lagu “Lonely” hingga ketenangan di “The Way That I Love You,” album ini menggambarkan perasaan yang nyata. Lagu seperti “Surrender” dan “Aku Untukmu” menampilkan penyerahan diri pada cinta. Sementara lagu “Habits” dan “Broken Promise” mengajak pendengar untuk berdamai dengan kekecewaan dan kenyataan.
Sezairi memilih “Broken Promise” sebagai fokus utama album ini. Dalam lagu ini, Sezairi menggambarkan emosi mendalam dengan drum yang sengaja tidak sempurna, mencerminkan ketidaksempurnaan akibat kehilangan kepercayaan.
Album ini juga merayakan akar budaya Indonesia Sezairi. Dengan lebih banyak lagu berbahasa Indonesia, “The Art of Surrender” menjadi bentuk pulang emosional Sezairi ke akar keluarganya di Banjarmasin dan Pekalongan. “Aku harap pendengar di Indonesia bisa melihat ini sebagai titik penting dalam karierku,” ujarnya.
Sampul Album dan Terapi Pengungkapan Diri
Sampul album ini menampilkan wajah Sezairi tanpa kacamata atau simbol pelindung. Sezairi merasa tidak nyaman melihat dirinya sendiri, namun ia memutuskan untuk menatap kamera tanpa filter. Ia menganggap ini sebagai bagian dari terapi pengungkapan diri.
Sezairi menyebut proses pembuatan album ini sebagai “the art of being an amateur”, seni untuk kembali belajar dari awal. Dalam industri musik yang terobsesi dengan kontrol, Sezairi justru menemukan kebebasan dalam melepaskan dan menjadi dirinya sendiri.
Dengarkan “The Art of Surrender” sekarang di seluruh layanan streaming musik.












